Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penting! Hukum Potong Rambut Saat Haid

hukum potong rambut saat haid

Setelah kita mengetahui hukum potong rambut saat puasa, pada kesempatan kali ini kita akan coba membahas hukum potong rambut saat haid. Karena bagi seorang wanita, potong rambut dan haid adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Terkadang ketika ingin potong rambut dan bertepatan dengan masa haid, wanita menjadi bingung. Agar tidak bingung yuk kita bahas hukum potong rambut saat haid.

Hukum Potong rambut Saat Haid

Tidak ada riwayat tentang larangan kepada wanita haid untuk memotong kuku ataupun rambut. Begitu juga, tidak ada riwayat yang memerintahkan agar rambut wanita haid yang rontok untuk di cuci bersamaan dengan mandi setelah haid.

Namun sebaliknya, ada riwayat yang membolehkan wanita haid untuk menyisir rambutnya. Padahal, tidak mungkin ketika wanita menyisir rambut, tidak ada bagian rambut yang rontok.

Disebutkan dalam hadits dari A’isyah, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah sampai di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

…..دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي

“Tinggalkan umrahmu, lepas ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 & Muslim 1211)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan A’isyah yang sedang haid untuk menyisir rambutnya. Padahal beliau baru datang dari perjalanan.

Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan dengan yakin, pasti akan ada rambut yang rontok. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh A’isyah untuk menyimpan rambut yang rontok untuk dimandikan setelah suci dari haid.

Hadits ini menunjukkan bahwa rambut rontok atau potong kuku ketika haid hukumnya sama dengan kondisi suci. Artinya, tidak ada kewajiban untuk memandikan rambut rontok dan potongan kuku bersama dengan mandi haid.

Jika hal ini disyariatkan, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan dan memerintahkan kepada A’isyah agar menyimpan rambutnya dan memandikannya bersamaan dengan mandi haid.

Dalam Fatawa Al-Kubra, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terdapat pertanyaan, “Ketika seorang sedang junub, kemudian memotong kukunya, atau kumisnya, atau menyisir rambutnya. Apakah dia salam dalam hal ini? Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa orang yang memotong rambutnya atau kukunya ketika junub maka semua bagian tubuhnya ini akan kembali pada hari kiamat dan menuntut pemiliknya untuk memandikannya, apakah ini benar?”

Syaikhul Islam memberi jawaban

قد ثبت عن النبي صلى الله عليه و سلم من حديث حذيفة ومن حديث أبي هريرة رضي الله عنهما : أنه لما ذكر له الجنب فقال : إن المؤمن لا ينجس. وفي صحيح الحاكم : حيا ولا ميتا

"Terdapat hadits shahih dari Hudzifah dan Abu Hurairah radiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang junub, kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.’ Dalam shahih Al-Hakim, ada tambahan, ‘Baik ketika hidup maupun ketika mati.’

وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا بل قد قال النبي للذي أسلم : ألق عنك شعر الكفر واختتن. فأمر الذي أسلم أن يغتسل ولم يأمره بتأخير الاختتان وإزالة الشعر عن الاغتسال فإطلاق كلامه يقتضي جواز الأمرين

Sementara saya belum pernah mengetahui adanya dalil syariat yang memakruhkan potong rambut dan kuku, ketika junub. Bahkan sebaliknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk islam, "Hilangkan darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah." Beliau juga memerintahkan orang yang masuk islam untuk mandi. Dan beliau tidak memerintahkan potong rambut dan khitannya dilakukan setelah mandi. Tidak ada perintah, menunjukkan bolehnya potong kuku dan berkhitan sebelum mandi." (Fatawa Al-Kubra, 1:275)

Allahu a’lam.

Oleh Ustadz Ammi Nur Baits

Post a Comment for "Penting! Hukum Potong Rambut Saat Haid"